Menu Close

Mui Nyatakan Vaksin Astrazeneca Haram Karena Mengandung Babi, Tapi Tetap Bisa Dipakai

BPJS Kesehatan mengaku telah melakukan klarifikasi terkait dengan kebocoran 279 juta information masyarakat Indonesia ke Bareskrim Polri. Ada keterangan dari ahli dari yang kompeten dan terpercaya tentang bahaya atau risiko deadly jika tidak segera dilakukan vaksinasi Covid-19. Teknologi ini mengambil sel virus yang biasa serang simpanse dan dimodifikasi genetic agar gak menularkan penyakit pada manusia.

Vaksin Astrazeneca babi

Untuk mengkombinasikan virus Sars-Cov-2 dibutuhkan namanya inang supaya bisa menyatu dengan sel virus simpanse tersebut. Pada sixteen Maret, MUI menetapkan fatwa 14 tahun 2021, tentang hukum peenggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca. Tanggal 17 Maret fatwa itu diserahkan pada pemerintah untuk dijadikan panduan. Sebelumnya, MHRA mengumumkan hasil peninjauan mereka terhadap beberapa kejadian tromboembolik di antara lebih dari eleven juta orang yang menerima Vaksin COVID-19 AstraZeneca di Inggris.

Dikutip dari beberapa sumber, direktur hubungan media world AstraZeneca, Matthew Kent, menegaskan bahwa produk akhir dari vaksin tersebut tidak mengandung produk turunan manusia atau hewan, termasuk babi. AstraZeneca rencananya akan menjadi vaksin kedua yang digunakan di Indonesia untuk mengatasi pandemi COVID-19. Vaksin AstraZeneca ini menggunakan adenovirus dari hewan simpanse yang dapat memicu respons imun untuk melawan virus corona. Penghentian tersebut dilakukan sebagai upaya untuk memastikan keamanan dari vaksin AstraZeneca. Melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan , kini vaksin batch CTMAV547 ini sedang diuji dengan uji sterilitas dan toksisitasnya.

Lalu, tidak jelas manfaat suatu vaksin, apalagi jika mudharatnya jauh lebih besar. Haram tidak hanya dipandang dari kandungannya, namun juga proses dan manfaatnya,” jelas Atoilah, Minggu (21/3). Harianjogja.com, JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia membolehkan penggunaan vaksin buatan AstraZeneca produksi Korea Selatan meski mengandung babi. Tripsin bukan bahan baku utama virus, melainkan bahan yang digunakan untuk memisahkan sel inang virus dengan micro carier virus.

“Tapi kita tau, setidaknya dalam pembuatan vaksin itu ada tiga hal yang harus kita lihat. Pertama yakni penyiapan inang pembibitan vaksin. Inang pembibitan vaksin ini yang menggunakan materi berasal dari babi,” jelasnya. MUI memang telah memberikan izin penggunaan darurat vaksin AstraZeneca untuk saat ini. Namun Hasanuddin menegaskan bahwa izin tersebut akan dicabut saat Indonesia sudah mulai kedatangan vaksin mereka lain yang hasil kajiannya halal dan suci. Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Hasanuddin Abdul Fatah menyebutkan bahwa vaksin AstraZeneca mengandung unsur vaksin dari babi, sehingga hukumnya haram. MUI bersikukuh vaksin AstraZeneca mengandung babi meski sudah dibantah oleh produsen.

Selanjutnya, Majelis Ulama Indonesia menyatakan Vaksin AstraZeneca mengandung tripsin babi alias haram, namun atas nama kedaruratan tetap bisa digunakan di Indonesia. Walaupun demikian, penggunaan vaksin Covid-19 produk AstraZeneca pada saat ini hukumnya dibolehkan dengan lima alasan. Penelitian vaksinasi yang telah dilakukan berdasarkan mannequin penelitian dunia nyata (real-world) menemukan bahwa satu dosis vaksin diklaim mengurangi risiko rawat inap hingga 94 persen di semua kelompok umur.

“Bahannya mengandung bahan haram atau dibuat dengan cara yang haram, dalam proses pembuatan vaksin itu melanggar hukum syariah, dan tidak jelas manfaat suatu vaksin apalagi jika mudharatnya jauh lebih besar. Jadi hukum haram tidak hanya dipandang dari kandungan bendanya, tetapi juga pada proses maupun manfaatnya,” kata Dr. Atoilah. Untuk meyakinkan umat Islam di seluruh dunia, Badan Otoritas Produk Obat dan Kesehatan Inggris juga telah melansir keterangan bahwa semua tahapan pembuatan vaksin itu tidak ada satupun yang menggunakan produk turunan babi. Karena itu diharapkan agar umat Islam di seluruh dunia tidak mencemaskan isu itu.

Selain itu ada pula pertimbangan Adh dhararu dalam hukum Islam atau kaidah kedaruratan. Meski ada unsur babi atau kandungan haram lainnya, bisa jadi halal karena kondisi keterbatasan vaksin. Hingga nanti akhirnya ditemukan vaksin yang terbuat dari bahan yang suci. “Saat nanti ditemukan vaksin dengan tripsin sapi atau standing pandemi Covid-19 berubah jadi endemi saja, barulah dapat dikatakan kedaruratan masalah sudah lewat,” katanya.