Menu Close

Segera Ke Dokter Jika Alami Ini Usai Vaksinasi Astrazeneca

Upaya imunisasi Australia sangat bergantung pada vaksin AstraZeneca, dengan rencana untuk memproduksi 50 juta dosis di negara tersebut. Perubahan kebijakan tersebut mendorong pihak berwenang untuk menggandakan pesanan Pfizer sebelumnya menjadi 40 juta suntikan. Vaksin mRNA-1273 dari perusahaan Moderna AS, pada prinsipnya sangat mirip dengan vaksin BioNTech/Pfizer. Setelah dilakukan vaksinasi, muncul laporan efek samping berupa reaksi alergis. Efek samping diduga dipicu partikel lipid nano yang menjadi transporter unsur aktifnya, yang diuraikan oleh tubuh. Komite keamanan EMA dalam sebuah pernyataan menyampaikan bahwa “pembekuan darah yang tidak biasa dengan trombosit darah rendah harus terdaftar sebagai efek samping yang sangat langka.”

Apakah vaksin Astrazeneca berbahaya

Vaksin Covid-19 ini dikembangkan oleh para peneliti di Universitas Oxford dan diproduksi oleh AstraZeneca. Pasalnya, sebelumnya WHO mengatakan tentang waktu optimum untuk dosis kedua vaksin AstraZeneca itu adalah pada 9 sampai dengan 12 pekan kemudian. Hal ini akan berpengaruh dengan rekomendasi dari Badan POM terkait penggunaannya.

Tromboemboli merupakan kejadian medis yang sering dijumpai dan merupakan penyakit kardiovaskuler nomor 3 terbanyak berdasarkan data international. Namun tidak ditemukan bukti peningkatan kasus ini setelah penggunaan vaksin COVID-19 AstraZeneca. “Saatnya sekarang bersatu dan hindari polemik yang tidak produktif,” pesannya. Hal ini yang sedang diincar pemerintah dalam program vaksinasi, yaitu terbentuk herd immunity sebesar 70 persen. European Medicines Agency juga mengatakan bahwa manfaat vaksinasi lebih besar daripada risikonya.

Setelah mendalami data tentang kualitas, keamanan, dan efikasi vaksin AstraZeneca, EMA merekomendasikan pemasaran bersyarat untuk vaksin itu bagi masyarakat berusia 18 tahun ke atas. Hasil uji klinis dari Britania Raya, Brasil, dan Afrika Selatan yang diteliti WHO menunjukkan vaksin AstraZeneca aman dan efektif dalam mencegah Covid-19 di kalangan warga berusia 18 tahun ke atas. Di India, vaksin AstraZeneca digarap oleh Serum Institute of India dengan nama Covishield. Dari 31 kasus pembekuan darah langka yang dilaporkan ke Institut Paul Ehrlich Jerman, ditemukan bahwa setiap orang tersebut baru menerima vaksin AstraZeneca.

Mengacu pada kedaruratannya, BPOM pun menerbitkan ketentuan masa simpan enam bulan terhitung sejak tanggal produksi, yakni September 2020. Dengan demikian, masa simpannya dianggap akan berakhir pada 25 Maret 2021. Sementara mengenai kondisi dan riwayat penyakit almarhum, Viki menyebut adiknya tidak memiliki riwayat sakit berat. Kedua pasien menderita trombosis vena serebral atau pembekuan darah di otak, termasuk satu kasus dengan trombositopenia atau kekurangan trombosit darah. Penambahan kasus ini membuat jumlah complete kasus penggumpalan darahusai vaksinasi COVID-19 menggunakan AstraZeneca menjadi 30 orang dan kematian menjadi sembilan, seperti dilansir dari Connexionfrance.com.

Australia ingin menjauh dari pengadaan vaksin yang sedang ditinjau terkait pembekuan darah. Hal ini mendorong pejabat Australia untuk merekomendasikan mereka yang berusia di bawah 50 tahun untuk menerima vaksin Pfizer Inc daripada AstraZeneca, sehingga program vaksinasi di Negeri Kanguru menjadi berantakan. Ia mengatakan, masih dibutuhkan penyelidikan dan penelitian lagi untuk memastikan pembekuan darah yang terjadi setelah seseorang menerima suntikan vaksin AstraZeneca. Penelitian lebih lanjut gagal menyebutkan jenis sakit kepala lain yang dilaporkan oleh para sukarelawan. MHRA pun sedang melakukan tinjauan rinci atas masalah pembekuan darah langka yang dialami oleh orang suntik vaksin AstraZeneca. Sejumlah negara menghentikan sementara penyuntikan vaksin Covid-19 AstraZeneca karena kemunculan efek samping yang berbahaya.

Sementara di Prancis, vaksin AstraZeneca direkomendasikan untuk orang yang berusia 55 tahun ke atas. Dilansir dari laman resmi Pemerintah Inggris, vaksin AstraZeneca buatan Oxford mengandung beberapa bahan sebagai berikut. Dengan ancaman varian baru COVID-19 masih nyata, keraguan pada vaksin AstraZeneca bisa menjadi masalah.

Jika kedua vaksin buatan berbeda tersebut disuntikan ke dalam tubuh yang sama akan berbahaya dikarenakan materil dari kedua vaksin tersebut berbeda. “Hasil uji pertama tidak menggembirakan untuk kelompok usia 60 hingga 65 tahun terkait AstraZeneca,” ujar Emmanuel Macron pada 2 Februari lalu, dikutip dari Reuters. Pemberhentian dilakukan sampai keluar hasil penyelidikan lebih lanjut mengenai efek samping vaksin AstraZeneca. Mereka juga mengidentifikasi tidak ada hubungan sebab-akibat antara vaksin dengan pembekuan darah. Ilustrasi vaksin Covid-19 (unsplash/@hakannural)Sebelumnya, vaksin AstraZeneca adalah vaksin Covid-19 kedua yang disetujui oleh MHRA untuk penggunaan darurat di Inggris.

Makanya ucap dia, pada pelaksanaan vaksinasi Covid 19, perhitungannya harus tepat jangan sampai orang sudah yang divaksin dosis pertama menggunakan sinovac tidak mendapatkan dosis kedua karena kehabisan. Mereka menilai, manfaat vaksin AstraZeneca lebih besar dibanding risiko yang ditimbulkannya terhadap pasien. Jadi, belum bisa dipastikan mengenai pembekuan darah yang disebabkan vaksin AstraZeneca,” jelas dr. Devia. Senada dengan temuan di atas, dr. Devia Irine Putri menjelaskan sampai saat ini tidak ada hubungan antara vaksin AstraZeneca dengan pembekuan darah. Dikutip dari BBC UK, Bulgaria menjadi negara terbaru yang menangguhkan penggunaan vaksin AstraZeneca. Setelah disuntikkan, vaksin akan mengajarkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan virus corona.

Tujuan prosedur tersebut adalah memastikan ketersediaan obat, vaksin, dan diagnosis secepat mungkin untuk menangani keadaan darurat dengan tetap mematuhi kriteria keamanan, khasiat, dan kualitas yang ketat. Selain itu, ditegaskan pula bahwa manfaat vaksin yang dikembangkan bersama dengan Universitas Oxford tersebut lebih besar daripada risiko yang ada sehingga direkomendasikan untuk terus digunakan dalam program vaksinasi. Vaksin AstraZeneca yang diproduksi di Inggris, Italia, Korea Selatan dan India ini, merupakan salah satu dari three jenis vaksin Covid-19 yang digunakan dalam program vaksinasi nasional pemerintah Indonesia saat ini.